Putus Itu Indah …!!!

Penulis : Dhadha ‘humairah’ Fakiha ‎

Aku adalah seorang gadis remaja yang telah menginjak usia 17 tahun. Kini aku duduk di kelas 3 IPA di salah satu SMA Negeri di daerah ku. Seperti remaja pada umumnya yang katanya harus menjadi remaja ‘modern’. Gak modern katanya kalau gak nongkrong di mall, gak modern katanya kalau gak pake celana jeans yang super ketat and gak modern juga katanya kalau gak P.A.C.A.R.A.N !!

Ya, tak bisa ku pungkiri., akupun telah beberapa kali menjalani hubungan pacaran. Hubungan yang gak jelas keberadaannya. Sebenarnya aku sendiri gak terlalu ngerti, apa sich pacaran itu? Bahkan ditegaskan dalam Islam bahwa pacaran itu tidak ada. Karena pacaran adalah aktifitas mendekati zina. Allah pun telah berfirman “Janganlah kamu mendekati zina”. Tapi  apa dayaku, aku belum terlalu paham akan hal itu, atau aku hanya pura-pura tidak paham agar aku bisa berpacaran ??

Semoga dia adalah pacar terakhirku. Lelaki pilihanku itu adalah kakak kelasku sendiri di SMA. Dulu aku masih duduk di kelas 2 SMA dan lelaki pujaanku itu duduk di kelas 3 SMA. Mengapa aku begitu berharap ia menjadi pacar terakhirku? Memangnya aku mau cepat-cepat menikah? Atau dia adalah cinta matiku? Atau…..Entahlah!

Hmm, aku memang sudah suka padanya sejak aku kelas 1 SMA. Sebut saja kak Naz (Nazmun). Dia adalah ketua ROHIS di sekolahku. Dia adalah sosok yang sangat aku kagumi sejak lama. Aku kagum padanya karena sepertinya dia adalah lelaki yang saleh. Lihat saja, dia bisa menjadi ketua rohis di sekolahku. Dia juga siswa yang cukup pintar dan aktif dalam berorganisasi.

Ternyata, tanpa aku ketahui, kak Naz juga sudah naksir sejak lama padaku. Betapa bahagianya hatiku saat mengetahui hal itu langsung dari mulut kak Naz. Aku seperti melayang-layang. Ternyata kita saling menyukai pada pandangan pertama. Telah lama kita saling memendam rasa itu.

Sabtu, 15 Agustus 2009 diadakan pelantikan akbar di sekolahku. Aku dan kak Naz ngobrol-ngobrol di puncak acara akbar tersebut. Puncak acara akbar ini adalah pada malam hari. Moment ini dimanfaatkan kak Naz untuk mengungkapkan perasaannya padaku.

“Umma…”  begitulah panggilan orang-orang kepadaku. Namaku yang sebenarnya adalah Humairah.

“Umma….” Panggilnya yang kedua kali. Jantungku  rasanya hendak copot. Dag… dig… dug… mendengar suaranya memanggilku saja aku sudah gemeteran. Sepertinya malaikat cinta sedang mengelilingi kami. Tuhan… tolong aku… tenangkanlah hatiku yang sudah tak karuan ini.

“I..iya kak ?

“Kamu inget gak waktu pertama kali kita ketemu? Pas kita naek truk bareng! Waktu itu kita mau ada pelantikan pramuka!?”

“Hmm, i..iya kak aku inget banget ! Aku gak bakal lupa hari itu, bulan November 2008 lalu. Waktu aku masih kelas 1 kan? hehe” aku geli mengingat kita naek truk segala. Kenagan yang aneh ! Pertama ketemu di truk !

“Umma, kamu tau gak ?” kak naz memandangku.

“Apa?” tanyaku singkat.

“Saat pertama kita ketemu itu, kakak langsung jatuh hati sama kamu. Hal yang gak bisa kakak lupain dari kamu saat itu, kamu tuh jutek, pendiem dan yang paling lucu, pipi kamu pasti merah kalau kepanasan. Kayak pantat bayi.” Ungkapnya dengan sedikit canda. Kayaknya dia juga rada deg-degan.

“Oh..bener ni ?” huek. Pertanyaan yang gak seharusnya aku lontarkan.

“Ya, kakak suka sama kamu Ma, kamu mau kan  jadi pacar kakak?” tanyanya. Lama aku tak menjawab, hingga pukul 00.00 akupun menjawabnya “Ya udah kita jalani aja.”

Beberapa hari sudah kami ‘resmi’ pacaran. Kebahagiaan pun seakan tak mau lepas dari genggaman kami. Malaikat cintapun selalu hadir di antara kami berdua. Cinta ini tumbuh dan saling bermekaran bak bunga-bunga di taman. Hmm, mungkinkah ini kebahagiaan terindah yang pernah aku dapatkan? Kak Naz itu bagaikan sesosok pangeran yang sempurna yang aku temui.

Aku bahagia dan bangga bisa bersanding dengannya. Aku seperti orang yang paling beruntung yang ada di dunia ini. Mungkin cintalah yang menjadikan hubungan ini begitu indah. Cinta seperti apakah ini? Tapi, pacaran itu tak hanya cukup dengan cinta. Komunikasi, perhatian, dan pengertianpun sangat penting untuk hubungan ini.

Hari demi hari kita lalui dengan keindahan. Semakin lama aku semakin sayang pada kak Naz. Begitu berat untukku melepaskannya, karena aku tidak pernah ingin untuk melepaskan lelaki indah sepertinya.

Kisah demi kisah ia bagikan untukku dan akupun selalu berbagi kisah padanya. Kini, suka duka kita bersama. Benarkah? Namun, cinta kami tak semulus TOL JAGORAWI. Tamu lain selain cinta dan kebahagiaan pun hadir di antara kami., yaitu rasa cemburu. Tiga bulan sudah kami berpacaran, dia semakin protectif padaku. Cemburunya sangat besar. Tapi aku selalu berfikir, mungkin itu karena ia sangat takut kehilanganku. Tapi, apakah harus seperti ini?

Akupun sama seperti kak naz yang aktif berorganisasi. Aku aktif di rohis, pramuka, paskibra, dan OSIS. Di dalam organisasi-organisasi itu tentu aku dekat dengan teman-teman perempuan dan juga laki-laki.

Aku sayang pada kak  Naz, begitupun  ia. Aku rela melakukan apa saja untuknya. Hingga akhirnya ia memintaku untuk berhenti di salah satu organisasi yanga aku ikuti, yakni paskibra. Mungkin karena aku pernah dekat dengan teman lelaki di paskibra.

Mengapa semakin hari, aku semakin terkungkung dalam keadaan ini. Aku semakin tersiksa. Aku semakin terkekang dengan segala larangan-larangan yang ia berikan untukku. Bahkan, ia pernah memintaku untuk keluar dari semua organisasi yang aku ikuti. Kecuali, rohis akhwat yang tentu saja karena tidak ada laki-laki disana. Tapi aku tak bisa, aku tetap bertahan. Hmm, aku gerah dengan keadaan ini. Aku lelah. Aku bukanlah orang yang suka dikekeng. Aku biasa aktif, aku tak mau seperti ini !!

Benarkah ia cinta padaku? Tapi mengapa aku seperti tersiksa? Siapa yang bisa menolongku dari kesulitan ini? Orangtua? Sahabat? Kakak? Guru? Huft ! rasanya tidak. Aku harus  mengatasi masalah ini dengan hati dan akalku.

Hari ini hari jumat, sepulang sekolah aku kumpul pengajian rohis seperti biasanya. “Hari ini, materi pengajiannya apa ya?” tanyaku dalam hati. Sekarang sudah pukul 12.00. sebentar lagi materi pengajian akan segera dimulai.

Hmm, ternyata materi mengenai remaja dan pergaulan remaja. Ustadzah Latifah sang pemberi materipun menyinggung-nyinggung masalah pacaran. Aku tertunduk, aku merasa kalau aku pacaran. Sedikit-sedikit aku tersinggung dan merasa malu. Memang bukan hanya aku yang pacaran, tapi gawatnya aku pacaran dengan ketua rohis ikhwan. Ckckck….. gossip pacaranku ini sudah menyebar ke banyak orang. Sebenarnya, bukan gossip tapi fakta. Fakta yang seharusnya tidak perlu di sebar luaskan.

Aku sedikit menanggapi apa yang Ustadzah sampaikan siang itu.

“Lho ! Saya rasa yang tidak pacaran belum tentu lebih baik dari yang berpacaran! Karena banyak orang yang statusnya tidak berpacaran tetapi mereka sangat dekat. Yang pacaran belum tentu melakukan hal yang tidak-tidak.” Aku berbicara dengan sedikit emosi. Aku tidak mau kalah, karena aku merasa pacaranku biasa-biasa saja., tidak melakukan hal yang aneh-aneh. Ustadzah, tidak langsung menentang pendapatku, ia menanggapi perlahan-lahan. Tetapi aku tetap pada pendapatku, bahwa yang tidak pacaran belum tentu lebih baik dari yang berpacaran. Akhirnya pengajian siang itu selesai. Aku shalat dzuhur dan pulang bareng kak Naz.

Beberapa hari setelah pengajian rohis itu, aku terus memikirkan kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri saat itu. Sepertinya waktu itu aku kemasukan setan ! Sampai-sampai aku berani-beraninya bicara seperti itu pada Ustadzah. Aku terus memikirkan hal itu.

Pengajian demi pengajian aku ikuti. Aku tetap merasa ada yang mengganjal di hatiku. Ada apa sebenarnya dengan hatiku? Remuk rasanya hati ini. Aku terus memikirkan perkataan Ustadzah yang katanya, “Pacaran itu hanyalah kebahagiaan semu, awalnya memang indah tapi penuh dusta dan sengsara.” Aku menghubung-hubungkan perkataan Ustadzah dengan apa yang aku alami sekarang ini. Benarkah aku sedang melangkah menuju kesengsaraan? Benarkah aku hanya merasakan kebahagiaan yang semu? Siapapun disana! Tolong tunjukkan padaku mengenai kebenaran.

“Lebih mendekatlah pada Allah, insyaallah akan ada jalan dari masalahmu.” Hmm, orang-orang saleha itu selalu mengingatkan aku akan kebaikan. Hatiku tersentuh. Aku teringat firman Allah dalam surat Al-Insyirah ayat 6-8 “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan) tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap”

Aku semakin menangis meratapi diriku yang begitu bodohnya. Detik detikpun berlalu, air hujan disana menandakan hatiku yang basah. Aku terhanyut dalm air mataku sendiri. Saat itu juga aku mulai sedikit demi sedikit menjauhi kak Naz agar aku bisa lebih dekat dengan Allah. Jujur, aku seperti ini bukan karena aku benci padanya tetapi ini karena aku sayang padanya.

Tak sanggup rasanya aku menahan kegalauan hatiku. Aku menghamburkan tubuhku di pelukan Ustadzah. Aku menangis sejadi-jadinya saat aku mulai bertekad untuk berprinsip “bahwa aku tidak akan pernah lagi berpacaran”. Tapi… apakah aku rela melepaskan begitu saja orang yang sudah sejak lama aku sayangi? Disitulah aku menghabiskan satu bungkus tissue untuk menghapus air mataku. Aku HARUS rela meninggalkan kebahagiaan semu demi kebahagiaan yang abadi. Aku harus YAKIN. Aku terus membanjiri pipiku.

“Tenanglah Umma, jika kamu yakin dengan prinsipmu, insyaallah kamu akan dipertemukan dengan lelaki yang seribu kali lebih baik darinya. YAKINLAH !” Perkataan Ustadzah semakin membuatku gemetar. Tentu bukan karena aku nervous berada didekatnya tapi karena aku semakin tersadar dari mimpi buruk yang aku alami.

“Teguhkan prinsipmu. Cintailah lelaki yang mencintai Allah. Percayalah, jika kak Naz mengerti akan hukum Islam, ia pun akan mengerti mengenai prinsipmu.” Semakin menyentuh hatiku, perkataan Ustadzah semakin mengugaah hati ini. Ternyata kesalehan itu bukan hanya diukur dari berapa banyak ilmu agama yang ia dapatkan, tapi seberapa banyak ilmu yang telah ia amalkan dalam kehidupannya?

Aku sedih dan miris melihat kehidupanku yang kemarin. Yang sepertinya sama sekali tak berguna! Tapi Ustadzah selalu mengingatkanku dan memberi ketenangan pada hatiku.

“Jangan terlalu disesali, ambil saja hikmah dari segala yang terjadi. Jadikan pelajaran untuk ukhti. Jadilah wanita yang tegar dan kuat. Karena rasulullah pun bersabda “Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah”.”

Entah darimana datangnya kejadian ini, yang pasti ini adalah rencana Allah yang diberikan untukku. Kak Naz menelfonku “Ma, kalau begini terus, lebih baik kita tidak usah melanjutkan hubungan kita ini. Kakak gak bisa dicuekin kayak gini” kak Naz berbicara dengan suara lirih.

“Tapi kak…” awalnya aku berat. Sangat berat. Tapi inilah jalan Allah. Akhirnya kamipun PUTUS ! tentu kita hanya putus hubungan pacaran, hubungan silaturahmi kita Alhamdulillah tetap terjalin dengan baik hingga saat ini. Kita putus bukan karena kita saling membenci, tapi karena kita saling menyayangi.

Kematian, rizki, dan jodoh adalah rahasia Allah. Tak ada yang bisa mengetahui kejadian esok hari. Semuanya bisa berubah sekejap diluar rencana manusia tapi dengan rencana-Nya.

Akhirnya, kini aku merasakan manisnya iman dan aku sangat tidak mau kehilangan nikmat yang Allah anugerahkan untukku ini. Semoga aku, kau, dia dan semua makhluk-Nya selalu istiqomah di jalan-Nya. Amin Ya Rabb.

BUKU YANG MENGINSPIRASI : TARBAWI

TERINSPIRASI DARI NOVEL YANG BERJUDUL “KETIKA CINTA BERTASBIH” KARYA “HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s