Naskah Drama

Arti Definisi / Pengertian Drama Dan Jenis / Macam Drama – Pelajaran Bahasa Indonesia

Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon.

Drama menurut masanya dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu drama baru dan drama lama.

1. Drama Baru / Drama Modern
Drama baru adalah drama yang memiliki tujuan untuk memberikan pendidikan kepada mesyarakat yang umumnya bertema kehidupan manusia sehari-hari.

2. Drama Lama / Drama Klasik
Drama lama adalah drama khayalan yang umumnya menceritakan tentang kesaktian, kehidupan istanan atau kerajaan, kehidupan dewa-dewi, kejadian luar biasa, dan lain sebagainya.

Macam-Macam Drama Berdasarkan Isi Kandungan Cerita :

1. Drama Komedi
Drama komedi adalah drama yang lucu dan menggelitik penuh keceriaan.

2. Drama Tragedi
Drama tragedi adalah drama yang ceritanya sedih penuh kemalangan.

3. Drama Tragedi Komedi
Drama tragedi-komedi adalah drama yang ada sedih dan ada lucunya.

4. Opera
Opera adalah drama yang mengandung musik dan nyanyian.

5. Lelucon / Dagelan
Lelucon adalah drama yang lakonnya selalu bertingkah pola jenaka merangsang gelak tawa penonton.

6. Operet / Operette
Operet adalah opera yang ceritanya lebih pendek.

7. Pantomim
Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.

8. Tablau
Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.

9. Passie
Passie adalah drama yang mengandung unsur agama / relijius.

10. Wayang
Wayang adalah drama yang pemain dramanya adalah boneka wayang. Dan lain sebagainya.

Contoh Naskah drama :

1.

 “SAKIT ANEH SANG BAGINDA”

Pemeran :

Narrator               : Devi

Baginda           : Abdul Wahid Maulana

Permaisuri        : Bintang

Dayang            : Siti Aisyah

Tabib             : Abd. Hamid

Prajurit          : Ahmad Suhendri

Abunawas          : Alan Setiawan

Narator : Disebuah negeri timur tengah, berdrilah sebuah kerajaan yang sangat besar dan megah. Tanahnya subur dan berlimpah ruah hasilnya, membuat rakyatnya hidup rukun dan sejah terah. Apalagi kerjaan itu dipimpin oleh seorang raja yang tampan dan gagah berani, membuat negeri itu aman dan damai. Saksikanlah……….!!!

Adegan I

Baginda : (Sambil meletakan swendoknya dalam piringya Islu menarik nafas panjang dalam-dalam dengan tatapan matanya, yang sayup memperhatikan hidangan yang disiapkan). Permaisuriku….?

Permaisuri : ”Ada apa bagindaku…..?

Baginda : “Begini permaisuriku, perutku tersa kering dan mual-mual, rasanya mau muntah sehingga selera makanku menjadi hilang”

Permaisuri : “Ma’af bagindaku, mungkin masakannya kurang enak ya?”

Baginda : “Tidak permaisuriku, makananya sudah enak sekali.”

Pemaisuri : (Permaisuri tidak putus asa, lau memanggil dayangnya). “Dayang….dayang, kemarilah….!

Dayang : (Dengan rergesah-gesah sambil membungkukan badan). “permaisuri memanggil hamba….?”

Pemaisuri : “Ambilkan masan jamur untuk baginda!”

Dayang : “ Baiklah, hamba segera melaksanakan tittah paduka.” (sambil memebawa makanan), “ini makanan untuk paduka, permaisuri”

Permaisuri : “Kembalilah danyangku. Paduka cobalah makan ini mungkin bias mengembalikan selerah makan baginda.”

Baginda :(Mengambil satu sendok nasi lalu mencicipinya…..kemudian)”kauk…kuak…kuak.” (sampai muntah)

Permaisuri : (Dengan tergesah-gesah). “dayang…..dayang…tolong panggilkan tabib kerajaan!”

Dayang : “Ia permaisuri (dengan tergesah-gesah dayang keluar dari ruangan itu dan memanggil tabib. Kemudian dalam waktu yang singkat, dayang kembali dengan seorang tabib kerajaan).

Tabit : “ Ampun permaisuri, adakah yang bisa hambah perbuat….?”

Permaisuri : “Begini tabib, hampir sebulan ini selerah makan baginda terganggu.”

Tabit : “Hamba mohon ampun baginda, ijinkan hamba memeriksa keadaan baginda. (tabib mendekati baginda dan langsung memeriksanya).

Permaisuri : “Bagaimana keadaannya….tabib….?”

Tabib : “Mohon ampun paduka, hamba tidak dapat menemukan penyakit dalam diri baginda, sekali lagi ma’af permaisuri.”

Permaisuri : (Menggeleng-gelengkan kepalanya), “bagaimana ini tabib, apakah tidak ada jalan lain lagi untuk mengetahui penyakit baginda raja….?

Tabib : “Mohon amapun permaisuri, hamba sarankan kalau bisa memanggil abunawas yang mungkin bisa menyembuhkan penyakit baginda raja.

Narator : Pergilah tabib menemui abunawas dan berceritalah mereka tentang penyakit aneh sang baginda raja. Apakah baginda raja dapat disembuhkan…? Apakah abunawas mampu melakukan yang terbaik unttu baginda raja? Saksikan……..!!!

Adegan II

Tabib : “ Abunawas” (sambil menundukkan kepala). “salam sejahtera baginda raja”

Baginda : Apakah kamu yang bernama abunawas….?

Abunawas : “ Mohon ampun baginda, hamba yang bernama abunawas”

Baginda : “ Apakah kamu bisa mengobati penyakitku ini….?

Abunawas : “ Ampun baginda raja, hamba sudah mendengar semua dari tabib kerajaan tentang apa yang paduka derita.”

Baginda : “ Menurutmu, adakah obat yang bisa menyembuhkan penyakitku ini….?”

Abunawas : “ Ada paduka yang mulia.”

Baginda : (Sambil berdiri dengan wajah yang berseri- seri ). “Obat apakah itu abunawas….?

Abunawas : “ Hamba punya saran, di hutan tutupan ada kijang berbulu putih yang dagingnya sagat lezat.”

Baginda : “ Lalu….?”

Abunawas : “ Syaratnya…. Baginda harus menangkap sendiri kijang berbuluh putih itu, apakah baginda sanggup….?”

Baginda : “ Baiklah abunawas, saya sanggup dan besok pagi kita berangkat.” (tanpa ragu-ragu).

Narator : Kemudian pulanglah abunawas ke rumahnya yang letaknya tidak jauh dari singgasana. Abunawas pulang untuk mempersiapkan senua perlengkapan yang akan dibawah. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Baginda, abunawas dan prajurit kerajaan sudah siap di depan singgasana untuk melakukan perjalanan. Mari…..! kita saksikan adegan berikut ini…..!!!

Adegan III

Baginda : “ Abunawas, apakah semua perlengkapan sudah disiapkan?”

Abunawas : “ Bagaimana prajurit, apakah perlengkapan dari singgasana sudah disiapkan?”

Prajurit 1,11 : “Ampun baginda semuanya sudah siap.”

Baginda : “ Kita berangkat sekarang.”

Narator : Rombongan paduka berangkat dengan membawa perlengkapan berburu, tetapi abunawas sengaja membawa nasih putih, air putih, garam, dan asam. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan namun, untuk mencapai tujuan, merekapun dengan bersemangat melanjutkan perjalanannya. Maka tibalah mereka di tegah-tegah hutan. Saksikan…!!!

Adegan IV

Baginda : “ Abunawas, selama perjalanan sampai di tengah hutan ini, tidak satupun binatang yang kita temukan.”

Abunawas : “ Memang betul paduka yang mulia, di sini ada semak-semak duri.”

Baginda : “ Kalau disini hanya semak-semak duri, lalu di mana kijang berbulu putih itu….?”

Abunawas : (Diam sejenak sambil tersenyum). “Begini baginda raja, konon kabar kijang berbulu putih itu muncul secara tiba-tiba.”

Baginda : (Sambil mengusap keringat dan menghela napas panjang). Oh… begitu ya abunawas?

Abunawas : “ Ya baginda raja. Kalau begitu, kita istirahat dulu sambil mencari sumber air.”

Baginda : “ Baiklah abunawas.”

Prajurit 1 : “ Mohon ampun paduka, tidak jauh dari sini ada sumber mata air.”

Abunawas : “ Oh…benar paduka. Lebih baik kita segera ke sana.”

Narrator : Lalu dengan langkah pasti, paduka bersama abunawas, dan prajurit-prajuritnya bergegas menuju sumber mata air dan tidak lama kemudian mereka tiba di sumber mata air tersebut. Saksikan….!!!

Adegan V

Baginda : (Menghela napas panjang). “ oh….indah sekali abunawas keadaan ala mini, airnya sangat jernih yang membuatku tidak tahan lagi untuk meminumnya. Dengan air ini, benar-benar menghilangkan dahagaku.”

Abunawas : “Betul paduka, air sangat jernih.”

Prajurit 1,11 : “Mohon ampun paduka, ijinkan hamba memita paduka untuk beristirahat di sini (menunjukkan tempat yang disediakan).”

Baginda : “Terimah kasih prajuritku.” (berjalan memnuju tempat istirahat)

Abunawas : “Ampun baginda, ijinkan hamba untuk mencari ikan di muara itu. (sambil menuju ke arah muara yang tidak jauh dari peristirahatan mereka).”

Baginda : “Oh…silakan abunawas, kebetulan perutku sudah lapar.”

Abunawas : “mohon ampun baginda, hamba dan prajurit segera mencari ikan di sana.”

Narrator : Lalu abunawas bersama prajurit menuju ke muara. Saksikan apakah mereka benar-benar menemukan ikan di muara….?

Adegan VI

Prajurit 11 : “Abunawas, lihatlah ternyata di muara ini banyak sekali ikannya dan sungguh menakjutkan.”

Abunawas : “Oh….betul sekali prajurit.jika kita bisa menangkapnya maka kita akan menikmatinya sampai puas. (sambil menanjapkan sebilah bambu yang sudah diruncing ke arah ikan-ikan di muara).”

Narrator : Berkali-kali abunawas menancapkan bambu ke arah ikan, sehingga ia mendapat beberapa ikan yang sangat besar. Lalu abunawas bersama prajurit bergegas menuju ke tempat baginda beristirahat, sambil membawa ikan hasil tangkapan mereka.

Prajurit 1 : “Mohon ampun baginda, abunawas dan prajurit sudah dating dan membawa bebberapa ikan hasil tangkapan.”

Baginda : “Oh…ikannya besar sekali, rupanya mereka pandai menangkap ikan.”

Abunawas dan prajurit: (dengan wajah tersenyum, tibalah mereka di tempat peristirahatan baginda raja).

Abunawas : “Mohon ampun baginda raja, imilah ikan tangkapan kami.”

Baginda : “kalau begitu bakarlah ikan-ikan itu.”

Abunawas : “Baiklah baginda, hamba akan melakukan perintah.” (sambil tersenyum).

Narator : Bergegaslah abunawas membakar ikan hasil tangkapan mereka dengan hati gembira, abumawas mengkipas bara api sehingga aroma ikan-ikan itu tercium hidung baginda raja. Setelah ikan-ikan itu matang, abunawas membuka bungkusan bekal yang dibawanya. Saksikan…..!!!

Adegan VII

Abunawas : (Sambil menyungguhkan ikan baker yang lezat itu kehadapan baginda raja ). “ampun baginda, ijinkan hamba mempersilakan paduka menikmati ikan-ikan bakar ini.”

Baginda : “Terimah kasih abunawas.”

Narrator : Ternyata baginda raja sangat menikmati masakan-masakan yang sudah disiapkan abunawas bersama prajuritnya. Saksikan…..!!!

Adegan VIII

Baginda : “Abunawas, ikannya enak sekali seperti makanan ini akan saya habiskan.”

Abunawas : “Ampun baginda raja, dengan makanan ini apaka selerah makan baginda sudah pulih kembali?”

Baginda : “Ya, rasanya selerah makanku sudah pulih. Kalau begitu lanjutkan perjalanan mencari kijang berbulu putih itu.”

Abunawas : “Ampun baginda raja, sebenarnya kijang berbulu putih itu tidak ada.”

Baginda : “lalu, bagaimana kita harus mendapatkan obat unttuk penyakitku ini?”

Abunawas : “Mohon ampun baginda, baginda tidak perlu mencari obat lagi, karena selerah makan baginda sudah pulih kembali.”

Baginda : “Kamu benar-benar abunawas, penyakit anehku sudah sembuh. Bagaimana ini bisa terjadi?”

Abunawas : “Menurut hamba, sebenarnya baginda tida menderita penyakit apapun karena selama ini ketika makan, perut baginda belum terasa lapar apa lagi baginda tidak banyak bergerak.”

Baginda : “Kamu benar-benar cerdik abunawas, kalau begitu lain waktu kita berburu lagi.”

Abunawas : (Sambil tertawa terbahak-bahak) “ha…..ha….ha……ha…….”

Narator : Demikianlah kisah cerita “ SAKIT ANEH SANG BAGINDA” yang membuat kita semakin penasaran untuk mencari tahu apakah kijang putih itu benar-benar ada? sebaga akhir kata “saya ingin menyampaikan mohon ma’af dari hati yang paling dalam bila ada kata-kata dan kalimat yang kurang menyenang di hati para pembaca.”

“TERIMAH KASIH”

A. Tema : ABUNAWAS YANG CERDIK

B. Latar atau Seting

1. Tempat

a. Disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah.

b. Di tengah hutan

c. Di pinggir sebuah muara

2. Waktu

a. Pada pagi hari

b. Pada siang hari

C. Alur atau Plot

(Tahapan Alur Drama)

1. Pemaparan atau eksposisi : disebuah negeri timur tengah. Disebuah kerajaan yang sangat besar dan megah.

2. Komplikasi : tabib yang menemukan adanya penyakit pada sang baginda

3. Klimaks : abunawas mempunyai obat yang bisa menyembuhkan penyakit baginda yaitu berburu kijang beebulu putih.

4. Penyelesaian/katastrota : baginda tidak memiliki penyakit, dia hanya kurang bergerak.

D. Penokohan atau Perwatakan

Perwatakan Batin

1. Baginda : Tidak nudah putus asa

2. permaisuri : Tidak nudah putus asa, mengurus baginda yang sedang sakit.

3. Dayang-dayang : Selalu setia melayani baginda dan permaisuri

4. Tabib : Bijasana dalam memberi jalan keluar untuk menyembuhkan baginda raja.

5. Prajurit : Setia menemani baginda raja disaat berburu

6. Abunawas : Pintar, cerdik, dan bijaksana

E. Amanat

Agar tidak boleh memperdiksikan sesuatu yang tidak kita ketahui kebenarannya, dan harus saling talong-menolong kepada sesama yang membutuhkan bantuan kita.

2.

EPISODE DAUN KERING

Sebuah drama monolog oleh Zulfikri Sasma

 ADAPTASI DARI CERPEN KARYA LARSI DE ISRAL 

Panggung adalah ruangan kosong yang hanya di isi oleh sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Lampu panggung tampak temaram. Sarjun, seorang lelaki muda (kira-kira berusia 24 tahun) dengan menyandang sebuah ransel di punggungnya, tampak melangkah lemas memasuki panggung. Ribuan rasa kecewa menghias di wajahnya. Lelaki itu kemudian duduk di atas bangku dan menaruh ransel di sampingnya. Ia tertunduk lesu dan kemudian mengangkat wajahnya.

SARJUN

Saudara-saudara, sampai hari ini, saya masih mempercayai Tuhan dengan segala skenario-Nya. Pergantian siang dan malam. Kehidupan dan kematian. Untung dan rugi. Marah dan cinta. Di dalam semua itu kita melingkar, menjalar bahkan kadang terpaku tanpa daya. Beragam kisah dilakoni dengan bermacam rasa yang terkadang menjelma benang kusut. Dibutuhkan kesabaran untuk mengurainya. Dan, manakala kesabaran yang kita miliki kian menipis atau sama sekali sirna, adakah orang lain akan datang menawarkan pertolongan? Memberi kesejukan pada pikiran dan perasaan seperti benang kusut?

Teramat berat bagi saya untuk berbagi kisah ini.

Kisah yang saya sebut sebagai episode daun kering!

Sarjun tertunduk, kecewa berkecamuk di dadanya. Tak lama, ia kembali mengangkat wajahnya dan melanjutkan ucapannya.

SARJUN

Bukan! Bukan karena menyangkut sisi hidup saya yang gelap, bukan saudara-saudara! Akan tetapi, hal ini melibatkan keluarga saya yang tinggal dua orang: Papa dan Alpin, adik saya…

Sarjun merubah posisi duduknya, memandang langit, tatapannya kosong.

 

SARJUN

Sejak kematian ibu, saya melanjutkan kuliah di Padang sedang Alpin kuliah di Medan. Sejak itulah Papa tinggal sendiri di Payakumbuh. Saya mengerti benar makna kesepian bagi orang seusia Papa. Karena itu saya mengunjunginya tiap bulan. Alpin pun saya kira begitu. Namun karena Medan dan Payakumbuh terbentang jarak yang tidak dekat, maka ia hanya pulang tiap liburan semester.

Tetapi saudara-saudara, kepulangan saya kali ini, sungguh-sungguh membuat saya hampir putus asa! Betapa tidak? Baru saja saya sampai di teras depan rumah, tiba-tiba saya mendengar teriakan “tidak” yang sangat begitu keras. Saya yakin, itu adalah suara Papa. Saya jadi tertegun mendengarnya, lalu mengintipnya lewat lubang kunci.

Sarjun beranjak dari tempat duduknya, berdiri dan melangkah ke depan panggung sambil tersenyum mengejek

 

SARJUN

Saudara-saudara, saudara-saudara tahu apa yang saya lihat? Sungguh di luar dugaan, saya menyaksikan Papa berdiri disamping meja telepon dengan kepala tertunduk dan wajah kuyu! Sempoyongan ia menuju sofa. Kecewa, marah, sedih dan entah makna apa lagi yang dapat dibaca dari raut wajahnya.

Kesal, lelaki itu kembali duduk di bangku

 

SARJUN

Heran, tidak mungkin Papa begitu! Tidak mungkin! Papa saya bukan lelaki yang rapuh. Ia lelaki paling tegar yang pernah saya kenal. Ia cerdas meski terkadang sangat egois. Masih terlalu jelas dalam ingatan saya ketika ia memutuskan berburu babi sebagai olahraga pengisi kesendiriannya.

Sarjun kembali menatap langit. Kali ini tatapannya tajam.

SARJUN

Waktu itu papa duduk di sofa. Ia membaca Koran, kelihatan santai, saya datang dan mengambil tempat di sofa lain.

SARJUN

Oke! Silahkan Papa buru babi. Tapi, membeli anjing? Apalagi seharga dua juta lebih? Saya tidak setuju! Itu haram, Pa!

PAPA

Hehehehe… jika tidak dibeli Papa dapat anjing dari mana? Mana ada anjing kurap yang bisa buru babi? Atau anjing jadi yang dibagi-bagi secara gratis? Nak, membeli anjing itu tidak apa-apa asal tujuannya baik. Nah, menyelamatkan tanaman petani dari hama babi kan perbuatan mulia? Banyangkan babi-babi yang temok itu diburu dengan anjing kurap, heh, heh… ia akan tetap merdeka melahap tanaman petani. Dan, petani tidak akan makan, kamu rela petani mati kelaparan?

SARJUN

Tapi Tuhan tidak pernah menghalalkan sesuatu dari yang haram

PAPA

Bukan Tuhan namanya kalau sekaku itu. Bukankah kamu sering bilang: adh-dharuratu tunbihul mahzhurat?

SARJUN

Apakah kondisi seperti itu sudah darurat?

PAPA

Menurutmu, keselamatan manusia bukan ukuran darurat?

SARJUN

Anjing adalah anjing. Babi adalah babi. Najis tetap najis dan haram tetap haram!

PAPA

Tuhan itu cerdas, nak. Ia tidak akan ciptakan tanah kalau memang kita dilarang menyentuh benda bernajis. Hehehehe…

 Kesal Sarjun seperti memuncak. Ia berdiri dan melangkah menuju belakang bangku

 

SARJUN

Bah! Banyak sekali alasan Papa untuk membenarkan keinginan dan perbuatannya.

Sarjun menggeleng-gelengkan kepalanya

 

SARJUN

Nah, saudara-saudara, bukankah apa yang saya saksikan di rumah tadi tidak masuk akal?

Seseorang yang selama ini tegar tertunduk lesu dan kuyu? Ini tidak masuk akal!

Apalagi setelah itu saya lihat Papa menangis! Menangis? Papa menangis? Heh? Tiba-tiba saya dorong daun pintu yang ternyata tidak terkunci. Papa terkejut melihat kedatangan saya. Segera Papa memburu saya. Lalu saya dipeluknya erat-erat. Begitu erat saudara-saudara!

Sarjun berhenti sejenak. Ia kembali duduk dan kemudian menunduk dengan kedua tangan menutup wajah. Keadaan jadi hening. Lama ia baru bersuara, tapi kali ini suaranya serak. Matanya kelihatan basah.

SARJUN

Dalam pelukan saya, tangis papa tiba-tiba tumpah. Saya jadi kikuk. Setelah agak lama, Papa saya ajak duduk. Papa masih menangis terisak-isak. Saya tinggalkan Papa di sofa, dan mengambil segelas air putih ke belakang.

Papa menangis? Sungguh tak masuk akal.

Sarjun diam sebentar, menghapus air mata yang menetes di pipinya. Berdiri lalu bergerak ke depan panggung.

 

SARJUN

Sampai malam itu, saya masih menganggap Papa sosok yang tegar, tidak rapuh apalagi cengeng. Saya punya banyak alasan untuk anggapan ini.

Pernah suatu ketika saya iseng-iseng mengikuti papa buru babi. Maksud saya untuk menemukan sebuah titik lemah sehingga Papa berhenti membeli anjing yang konon didatangkan dari Jawa. Tetapi yang saya temukan bukan titik lemah, melainkan noda hitam yang dicapkan kepada Papa. Ah, saya tidak tahu bagaimana mengatakan bagian ini. Papa ternyata seorang kriminal! Di hutan itu ia menanam ganja. Dan, buru babi rupanya hanya kedok buat mengelabui saya!

Ketika itu saya ingin lari ke tempat tak bernama dan entah dimana. Saya bingung. Tetapi darah muda saya berkata lain. Lawan! Ya, saya mesti melawan! Saya ambil beberapa helai daun jahanam yang tengah di jemur oleh anak buah Papa untuk saya linting. Saya kemudian mencari Papa.

Saya temukan Papa sedang merintih kesakitan, katanya diseruduk babi hutan. Ia hanya merintih, tidak menangis. Rasa iba tiba-tiba menjalar di dada saya, namun rasa benci telah meruang. Iba tiba-tiba tehalau oleh benci.

Seperti tidak tejadi apa-apa, saya menyalakan lintingan tadi, menghisapnya dalam-dalam dan menghempuskan asapnya ke arah Papa. Papa mencari-cari bau, lalu berdiri dan mengayunkan tamparan keras ke arah saya.

PAPA

Buang! Buang kataku! Aku menanam ganja-ganja itu bukan untuk anak-anakku. Melainkan untuk anak-anak orang lain. Aku hanya butuh uang untuk-anak-anakku!

SARJUN

Hmmm, aku bangga jadi anak orang yang tidak memikirkan anak-anak orang lain. Aku bangga! Aku bangga Pa!

Sarjun kembali terdiam dan duduk di bangku kayu. Keadaan kembali hening.

 

SARJUN

Saudara-saudara, sekarang Papa menangis, terisak-isak. Betul-betul tidak masuk akal. Saya lalu menaruh segelas air putih di atas meja dan mempersilahkan Papa untuk meminumnya.  Tetapi Papa tetap saja terisak-isak bersama tangisnya. Tiba-tiba, Papa menyebut-nyebut nama Alpin. Tentu saja saya terkesiap olehnya. Alpin? Ada apa dengan Alpin? Saya jadi bingung saudara-saudara! Heran!

Sarjun kembali menunduk, ia seperti menahan emosinya

SARJUN

Saudara-saudara, ternyata yang menyebabkan Papa saya menangis terisak-isak adalah karena Alpin. Alpin adik saya. Ia di tahan polisi. Alpin tertangkap basah menghisap daun jahanam itu. Daun yang ditanam orang lain yang tidak rela anaknya menghisap ganja!

Mendengar itu saya betul-betul kesal! Saat itu juga, saya ambil ransel dan segera melangkah menuju pintu. Waktu itu saya dengar suara papa memanggil nama saya, tapi tak lagi saya hiraukan. Saya muak! Sungguh-sungguh muak!

Sarjun makin menunduk, emosinya betul-betul memuncak, setelah merasa reda, barulah ia angkat kepalanya

SARJUN

Begitulah saudara-saudara, saya terpaksa kembali ke Padang malam itu juga. Saya tak sanggup menghadapi kenakalan orang tua seperti itu. Apalagi orang tua itu Papa saya sendiri. Telah saya putuskan untuk tidak menemui Papa lagi. Bahkan mungkin di hari pemakamannya kelak, saya takkan hadir. Saya tak bisa memberinya maaf. Saya tak bisa. Tetapi…hah…entahlah. Mungkin suatu ketika saya bisa. Mungkin… sebab, sampai saat ini saya masih mempercayai Tuhan dan segala skenariomya.

Sarjun berdiri, menyandang ranselnya kemudian berjalan keluar panggung. Bebannya berat

*    *    *

SELESAI

3.

PARA JAHANAM!
Naskah: Zulfikri Sasma

Adaptasi Cerpen LAMPOR Karya Joni Ariadinata

Para Pelaku:
JOHARI (suami)
TUMIYAH (istri)
ROS (anak perempuan)
UJANG (anak laki-laki)

Bagi masyarakat yang bermukim di tepi kali comberan, yang hanya terdiri dari puluhan gubuk-gubuk reot, parade hingar bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari mulai menciumi bau busuk pada tepian kali comber yang dipenuhi bermacam-macam sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar, ternyata telah menjadi upacara bangun pagi yang mengasyikkan. Hingga, tak ada satupun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton.

Inilah kisah tentang kaum comberan, kisah tentang orang-orang yang mengatakan bahwa hidup adalah untuk makan dan senang-senang!

I
Sebuah gubuk reot persis di tepi kali comberan. Dengan artistik ruangan 3×4 meter yang amat sederana, tampak seorang bapak paroh baya keluar dari kamar yang hanya dibatasi oleh triplek dan kain kumal. Pak Johari namanya, ia menguap lalu duduk di dipan kayu yang sama reotnya. Terasa sekali bahwa denyut kehidupan di rumah ini baru dimulai pada pukul 7 pagi.

Pak Johari terlihat sibuk dengan tumpukan-tumpukan kertas di atas mejanya. Ada banyak angka-angka yang tertulis di kertas itu. Ia terlihat berpikir keras, tak ubahnya seperti seorang professor yang akan menyelesaikan penelitiannya. Kemudia ia batuk-batuk, lalu meludahkan dahak kental ke lantai dengan santai.

JOHARI:
Merah delima?
(Johari kembali berpikir keras. Kemudian ia teringat sesuatu, lalu mencarinya diantara tumpukan kertas tersebut, tapi tidak ketemu)
Tum! Tumiyah! Tumiyah…!
(Tak ada sahutan, Johari lalu mengambil sisa tembakau tadi malam dan melinting, membakar, alu menghirupnya dalam-dalam)
Tumiyah! Tum! Hei! Apa kau lihat lembaran syair yang tadi malam kutarok di meja?
Tum! Kau dengar aku Tum?
(Tetap tak ada sahutan, Johari kemudian melanjutkan pekerjaannya)

II
Tiba-tiba Tumiyah datang membawa ember plastik sambil membanting daun pintu. Tak ayal lagi, sumpah serapah keluar dari mulutnya sendiri. Johari tetap konsentrasi dengan pekerjaannya. Sepertinya sikap Tumiyah yang datang begitu tiba-tiba adalah hal biasa yang dinikmatinya tiap hari.

TUMIYAH:
Betul-betul kurang ajar itu anak! Pagi-pagi sudah mencuri! Dasar anak jadah! Kau tahu Pak Tua? Uangku 3000 perak yang kusimpan di lemari sudah dicuri oleh si Ujang, padahal uang itu akan kupakai untuk membeli minyak tanah! Dasar anak sinting! Anak setan!

JOHARI:
Heh, apa kau lihat lembaran syairku yang kusimpan disini?
TUMIYAH:
Mana aku tahu syairmu, pagi ini aku sedang kesal. Lagi pula, apa tidak ada pekerjaan lain selain meramal syair-syair sialanmu itu?

JOHARI:
Dari pada kau mencaci maki terus-terusan, lebih baik kau bikinkan aku segelas kopi, biar otakku sedikit encer menghitung angka-angka ini

TUMIYAH:
Hari ini tak ada kopi Pak Tua! Sebaiknya kau simpan saja impianmu itu!

JOHARI:
Alah! Kau tahu apa tentang merah delima?
(Johari melanjutkan pekerjaannya dan Tumiyah menghilang menuju dapur)

III
Ketika Johari asyik dengan pekerjaannya, Ujang anaknya—yang masih berusia 10 tahun—datang, pakaiannya basah kuyup. Dengan melenggang kangkung, ujang mendekati bapaknya dan duduk di dipan. Matanya sibuk memperhatikan bapaknya yang sibuk menghitung angka-angka.

JOHARI:
He, anak jadah! Kenapa bajumu basah? Heh, aaa, aku tahu, kau pasti ngintip janda kembang itu mandi ya? Kecil-kecil sudah kurang ajar! Ayo pergi sana! Ganti bajumu! Mengganggu konsentrasiku saja!
(Dengan cuek Ujang beranjak menuju dapur, Johari masih melototkan matanya pada Ujang. Setelah Ujang menghilang, Johari kembali dengan pekerjaannya. Tapi, itupun hanya sebentar, karena tak lama setelah itu, Ujang berlari keluar dari dapur diiringi terikan istrinya yang memekakkan telinga.)

TUMIYAH:
Anak sialan! Hei, mau kemana kau? Heh, jangan lari! Kembalikan dulu uangku yang 3000 perak! Pasti kau yang mencurinya! Hei, jangan lari! Keparat, sampai kapan kau mempermainakan orang tua, heh? Awas kau! Awas!
(Tumiyah terlambat, lari Ujang begitu cepat, begitu keluar dari dapur, ia hanya mendapati suaminya yang tengah asyik dengan angka-angkanya, kontan saja, suaminya pun jadi sasaran kemarahannya)

TUMIYAH:
Pak tua, apa kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, heh? Ke pasar kek, kemana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah pak tua!

JOHARI:
Kau ikhlaskan saja 3000 perak itu, untuk beli minyak tanah ngutang dulu di warung si Leman, aku sedang nunggu si Kontan untuk urusan penting.

TUMIYAH:
Kontan gundul bonyok! Apa sepenting itu Kontan hingga kau harus menunggu? Dengar pak tua, utang sama si Leman sudah tiga puluh ribu perak, yang penting sekarang minyak tanah, bukan Kontan

JOHARI:
Perempuan goblok, kau tahu apa tentang merah delima? Heh, kalau jadi…hem. Kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan…

TUMIYAH:
Alah sudah! Dasar pembual!

(Tumiyah memotong ucapan suaminya, bertengkar dengan lelaki ini, tak akan menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Lalu menyapu gubuknya yang seperti kapal pecah. Tengah asyik menyapu, ia teringat bahwa hari ini adalah hari rabu. Tumiyah tersenyum, emosinya sedikit reda. Ia berhenti menyapu dan mendekati suaminya yang sedang mabuk membayangkan rumah sehebat Griya Arta)

TUMIYAH:
Apa kau sudah mendapatkan inpo alam pak tua?

JOHARI:
Heeeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!

TUMIYAH:
Weeaalahh, tololnya, kalau kau menang kan aku juga yang senang, lagian, apa kau punya duit? Beli minyak tanah saja tidak becus!

JOHARI:
Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba kau bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun. Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang satu ini aku harus bisa. Aku akan mengandalkan si Kontan, setidaknya untuk dua kupon

TUMIYAH:
Terserah, mau Kontan mau setan, aku sudah tak mau tahu, yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan karena Kontan.
(Tumiyah buru-buru bangkit, menyelesaikan pekerjaanya menyapu rumah, agak lama. Ia menoleh ke belakang, ke arah suaminya yang masih bermimpi dengan rumah seindah Griya Arta, hati-hati, ia kemudian menyelinap keluar, bukan ke warung Leman, tetapi ke Pasar untuk membeli dua lembar kupon)

IV
Hingga pukul 12.00 siang, Kontan belum jua muncul. Tiba-tiba Ros—anak gadisnya—muncul, Ros datang dengan membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Pak Johari jadi iri dan lapar. Pak Johari jadi ingat bahwa perutnya belum di isi sejak pagi tadi, sedang Tumiyah istrinya ngelayap entah kemana.

JOHARI:
Tentu kau masih menyimpan uang, belikan ayah sebungkus lagi, pake tahu

ROS:
Nggak! Nggak mau. Uangku hanya tingga 2000 perak buat beli viva, bedakku habis
(Ros tiba-tiba menjauh, menjaga nasinya agar tidak terjangkau oleh ayahnya)

JOHARI:
Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Ujang kan?

ROS:
Enak saja, bang Nasrul yang kasih aku lima ribu

JOHARI:
Nasrul? Laki-laki brengsek itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan sama Nasrul. Nasrul senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa

ROS:
Nggak! Pergi saja sendiri
(Ros kemudian lari ke belakang, tentu saja Johari marah sambil berteriak)

JOHARI:
Keparat! Awas kamu Ros, aku doakan kau nyahok dengan Nasrul!
(Pak Johari pun pergi keluar rumah)

V
Malam telah larut, lampu minyak telah lama dinyalakan. Kecuali Pak Johari yang memang belum pulang, semua penghuni di rumah itu telah lama lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Ya, tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.

Pukul sebelas malam, pak Johari baru pulang. Tubuhnya sedikit oleng pertanda sedang mabuk berat. Mulutnya menceracau-ceracau tak karuan. Memanggil-manggil Tumiyah Istrinya.

JOHARI:
Tum, Tumiyah, aku gagal Tum, hik, aku gagal mendapatkan kupon itu, padahal nomornya jitu, hik. Jika saja tidak, mungkin malam ini kita sudah bercinta di Griya Arta, eh, hik, bercinta? O ya, malam ini kita bercinta lagi ya Tum, hik, itulah obat bagi segalanya, hik. Tenanglah Tum, besok akan kupikirkan lagi kabar tentang merah delima, hik. Tum, hik, Tum..

(Mulut Johari terus menceracau, dalam benaknya sudah terbayang nikmatnya bercinta dengan Istrinya. Johari kemudian bergerak menuju salah satu kamar dalam gubuknya, tapi bukan ke kamar dimana Tumiyah Istrinya telah lama terlelap. Barangkali gara-gara terlalu mabuk sehingga Johari lupa bahwa ia telah masuk ke kamar Ros anak gadisnya. Dan…)

* * *

SELESAI

4.

NASKAH DRAMA:

BADAI SEPANJANG MALAM

Karya MAX ARIFIN

Para Pelaku:

1.Jamil, seorang guru SD di Klaulan,Lombok Selatan,berumur 24 tahun

2.Saenah,istri Jamil berusia 23 tahun

3.Kepala Desa,suara pada flashback

Setting :

Ruangan depan sebuah rumah desa pada malam hari.Di dinding ada lampu

minyak menyala.Ada sebuah meja tulis tua. Diatasnya ada beberapa buku

besar.Kursi tamu dari rotan sudah agak tua.Dekat dinding ada balai balai .Sebuah radio transistor juga nampak di atas meja.

Suara :

Suara jangkerik.suara burung malam.gonggongan anjing di kejauhan.Suara Adzan subuh.

Musik:

Sayup sayup terdengar lagu Asmaradahana,lewat suara sendu seruling

Note:

Kedua suami istri memperlihatkan pola kehidupan kota.dengan kata lain,mereka berdua memang berasal dari kota.tampak pada cara dan bahan pakaian yang mereka kenakan pada malam hari itu.mereka juga memperlihatkan sebagai orang yang baik baik.hanya idelisme yang menyala nyala yang menyebabkan mereka berada di desa terpencil itu.

01.Begitu layar tersingkap, nampak jamil sedang asyik membaca.Kaki nya ditelusurkan ke atas kursi di depannya.Sekali sekali ia memijit mijit keningnya dan membaca lagi.Kemudian ia mengangkat mukanya,memandang jauh ke depan,merenung dan kembali lagi pada bacaannya.Di kejauhan terdengar salak anjing melengking sedih.Jangkerik juga menghiasi suasana malam itu. Di kejauhan terdengar seruling pilu membawakan Asmaradahana.

Jamil menyambar rokok di atas meja dan menyulutnya.Asap berekepul ke atas.Pada saat itu istrinya muncul dari balik pintu kamar.

02.Saenah :

Kau belum tidur juga?kukira sudah larut malam.Beristirahatlah,besok kan hari kerja?

03.Jamil:

Sebentar,Saenah.Seluruh tubuhku memang sudah lelah,tapi pikiranku masih saja mengambang ke sana kemari.Biasa, kan aku begini malam malam.

04.saenah:

Baiklah.tapi apa boleh akuketahui apa yang kaupikirkan malam ini?

05.jamil:

Semuanya,semua apa yang kupikirkan selama ini sudah kurekam dalam buku harianku,Saenah.Perjalanan hidup seorang guru muda-yang ditempatkan di suatu desa terpencil-seperti Klulan ini kini merupakan lembaran lembaran terbuka bagi semua orang.

06.Saenah:

Kenapa kini baru kau beritahukan hal itu padaku?Kau seakan akan menyimpan suatu rahasia.Atau memang rahasia?

07.Jamil:

Sama sekali bukan rahasia ,sayangku! Malam malam di tempat terpencil seakan memanggil aku untuk diajak merenungkan sesuatu.Dan jika aku tak bisa memenuhi ajakannya aku akan mengalami semacam frustasi.Memang pernah sekali,suatu malam yang mencekam,ketika aku sudah tidur dengan nyenyak,aku tiba pada suatu persimpangan jalan di mana aku tidak boleh memilih.Pasrah saja.Apa yang bisa kaulakukan di tempat yang sesunyi ini?[Dia menyambar buku hariannya yang terletak di atas meja dan membalik balikkannya] Coba kaubaca catatanku tertanggal…[sambil masih membolak balik]..ini tanggal 2 oktober 1977.

08.Saenah:

[Membaca] “Sudah setahun aku bertugas di Klaulan.Suatu tempat yang terpacak tegak seperti karang di tengah lautan,sejak desa ini tertera dalam peta bumi.Dari jauh dia angker,tidak bersahabat:panas dan debu melecut tubuh.Ia kering kerontang,gersang.Apakah aku akan menjadi bagian dari alam yang tidak bersahabat ini?Menjadi penonton yang diombangkan ambingkan oleh…barang tontonannya.Setahun telah lewat dan selama itu manusia ditelan oleh alam”.[Pause dan Saenah mengeluh;memandang sesaat pada Jamil sebelum membaca lagi].”Aku belum menemukan kejantanan di sini.Orang orang seperti sulit berbicara tentang hubungan dirinya dengan alam.Sampai di mana kebisuan ini bisa diderita?Dan apakah akan diteruskan oleh generasi generasi yang setiap pagi kuhadapai?Apakah di sini tidak dapat dikatakan adanya kekejaman.”[Saenah berhenti membaca dan langsung menatap pada Jamil]

09.Jamil:

Kenapa kau berhenti?jangan tatap aku seperti itu,Saenah.

10.Saenah:

Apakah tulisan ini tidak keterlaluan?Bisakah ditemukan kejujuran di dalamnya?

11.Jamil:

Kejujuran kupertaruhkan di dalamnya,Saenah.Aku bisa mengatakan,kita kadang-kadang dihinggapi oleh sikap sikap munafik dalam suatu pergaulan hidup.Ada ikatan ikatan yang mengharuskan kita berkata “Ya!” terhadap apa pun,sekalipun dalam hati kecil kita berkata”Tidak”.Kejujuranku mendorong aku berkata,”Tidak”,karena aku melatih diri menjadi orang yang setia kepada nuraninya.Aku juga tahu, masa kini yang dicari adalah orang orang yang mau berkata”Ya”.Yang berkata “Tidak” akan disisihkan.[Pause] Memang sulit,Saenah.Tapi itulah hidup yang sebenarnya terjadi.Kecuali kalau kita mau melihat hidup ini indah di luar,bobrok di dalam.Itulah masalahnya.[Pause.Suasana itu menjadi hening sekali.Di kejauhan terdengar salak anjing berkepanjangan]

12.Saenah:

Aku tidak berpikir sampai ke sana. Pikiranku sederhana saja.kau masih ingat tentunya,ketika kita pertama kali tiba di sini,ya setahun yang lalu.Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai.Idealismemu menyala nyala.Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya.[S aenah lari masuk.Jamil terkejut.tetapi sekejap mata Saenah muncul sambil membawa tape recorder!] Ini putarlah tape ini.Kaurekam peristiwa itu.[Saenah memutar tape itu,kemudian terdengarlah suara Kepala Desa]’…Kami ucapkan selamat datang kepada Saudara Jamil dan istri.Inilah tempat kami.Kami harap saudara betah menjadi guru di sini.Untuk tempat saudara berlindung dari panas dan angin,kami telah menyediakan pondok yang barangkali tidak terlalu baik bagi saudara.Dan apabila Anda memandang bangunan SD yang cuma tiga kelas itu.Dindingnya telah robek,daun pintunya telah copot,lemari lemari sudah reyot,lonceng sekolah bekas pacul tua yang telah tak terpakai lagi.Semunya,semuanya menjadi tantangan bagi kita bersama.Selain itu,kami perkenalkan dua orang guru lainnya yang sudah lima tahun bekerja di sini.Yang ini adalah Saudara Sahli,sedang yang berkaca mata itu adalah Saudara Hasan.Kedatangan Saudara ini akan memperkuat tekad kami untuk membina generasi muda di sini.Harapan seperti ini menjadi harapan Saudara Sahli dan Saudara Hasan tentunya.”[Saenah mematikan tape.Pause,agak lama.Jamil menunduk,sedang Saenah memandang pada Jamil.Pelan pelan Jamil mengangkat mukanya.Mereka berpandangan]

13.Saenah:

Semua bicara baik-baik saja waktu itu dan semuanya berjalan wajar.

14.Jamil:

Apakah ada yang tidak wajar pada diriku sekarang ini ?

15.Saenah:

Kini aku yang bertanya:jujurkah pada nuranimu sendiri?Penilaian terakhir ada pada hatimu.dan mampukah kau membuat semacam pengadilan yang tidak memihak kepada nuranimu sendiri?Karena bukan mustahil sikap keras kepala yang berdiri di belakang semuanya itu.Terus terang dari hari ke hari kita seperti terdesak dalam masyarakat yang kecil ini.

16.Jamil:

Apakah masih harus kukatakan bahwa aku telah berusaha berbuat jujur dalam semua tindakanku?Kau menyalahkan aku karena aku terlalu banyak bilang”Tidak” dalam setiap dialog dengan sekitarku.Tapi itulah hatiku yang ikhlas untuk ikut gerak langkah masyarakatku.Tidak,Saenah.Mental masyarakat seperti katamu itu tidak terbatas di desa saja, tapi juga berada di kota

17.Saenah:

Kau tidak memahami masyarakatmu.

18.Jamil:

Masyarakat itulah yang tidak memahami aku.

19.saenah:

siapa yang salah dalam hal ini.

20.Jamil:

Masyarakat.

21.Saenah:

Yang menang ?

22.Jamil:

Aku

23.Saenah:

Lalu ?

24.Jamil:

Aku mau pindah dari sini.[Pause. Lama sekali mereka berpandangan.].

25.Saenah:

[Dengan suara rendah]Aku kira itu bukan suatu penyelesaian.

26.Jamil:

[Keras] Sementara memang itulah penyelesaiannya.

27.Saenah:

[Keras]Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu.Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis.Idealis sejati,malah.Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu.[Pause]

[Lemah diucapkan]Aku terkenang masa itu,ketika kau membujuk aku agar aku mu datang kemari[Flashback dengan mengubah warn cahaya pelan pelan.Memakai potentiometer.Bisa hijau muda atau warna lainnya yang agak kontras dengan warna semula.Musik sendu mengalun]

28.Jamil:

Aku mau hidup jauh dari kebisingan,Saenah.Aku tertarik dengan kehidupan sunyi di desa,dengan penduduknya yang polos dan sederhana.Di sana aku ingin melihat manusia seutuhnya.Manusia yang belum dipoles sikap sikap munafik dan pulasan belaka.Aku harap kau menyambut keinginanku ini dengan gembira,dan kita bersama sama kesana.Di sana tenagaku lebih diperlukan dari pada di kota.Dan tentu banyak yang dapat aku lakukan.

29.Saenah:

Sudah kaupikirkan baik baik? Perjuangan di sana berarti di luar jangkauan perhatian.

30.Jamil:

Aku bukan orang yang membutuhkan perhatian dan publikasi.Kepergianku ke sana bukan dengan harapan untuk menjadi guru teladan.Coba bayangkan,siapa pejabat yang bisa memikirkan kesulitan seorang guru yang bertugas di Sembalun,umpamanya?Betul mereka menerima gaji tiap bulan.Tapi dari hari ke hari dicekam kesunyian,dengan senyum secercah terbayang di bibirnya bila menghadapi anak bangsanya.dengan alat alat serba kurang mungkin kehabisan kapur,namun hatinya tetap di sana.Aku bukan orang yang membutuhkan publikasi,tapi ukuran ukuran dan nilai nilai seorang guru di desa perlu direnungkan kembali.Ini bukan ilusi atau igauan di malam sepi,Saenah.Sedang teman teman di kota mempunyai kesempatan untuk hal hal yang sebaliknya dari kita ini.Itulah yang mendorong aku,mendorong hatiku untuk melamar bertugas di desa ini.

31.Saenah:

Baiklah, Sayang.Ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbang perkawinan kita,aku sudah tahu macam suami yang kupilih itu.Aku bersedia mendampingimu.Aku tahu,apa tugas utamaku disamping sebagai seorang ibu rumah tangga.Yaitu menghayati tugas suami dan menjadi pendorong utama karirnya.Aku bersedia meninggalkan kota yang ramai dan aku sudah siap mental menghadapi kesunyian dan kesepian macam apa pun.Kau tak perlu sangsi.[Pause senbentar.Pelan pelan lampu kembali pada cahaya semula]

32.Saenah:

Kini aku menjadi sangsi terhadap dirimu.Mana idealisme yang dulu itu? Tengoklah ke kanan.apakah jejeran buku-buku itu belum bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang?Di sana ada jawaban yang diberikan oleh Leon Iris,Erich Fromm,Emerson atau Alvin Toffler.Ya,malam malam aku sering melihat kau membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future Shock nya Alvin Toffler itu.

33.Jamil:

Apa yang kau kauketahui tentang Eric Fromm dengan bukunya itu? Atau Toffler?

34.Saenah:

Tidak banyak.Tapi yang kuketahui ada orang-orang yang mencari kekuatan pada buku-bukunya.Dan dia tidak akan mundur walau kehidupan pahit macam apa pun dosodorkan kepadanya.karena ia mempunyaai integritas diri lebih tinggi dri orang-orang yng menyebabkan kepahitan hidupnya.apakah kau menyerah dalam hal ini?Ketika kau melangkahkan kakimu memasuki desa ini terlalu bnyak yang akan kausumbngkan padanya,ini harsus kauakui.Tapi kini-akuilah-kau menganggap desa ini terlalu banyak meminta dirimu.Inilah resiko hidup di desa.Seluruh aspek kehidupan kita disorot.Smpai sampai soal pribadi kita dijadikan ukuran mampu tidaknya kita bertugas.Dan aku tahu hal itu.Karena aku kenal kau.[Suasana menjadi hening sekali.Pause]

Aku sama sekali tak menyalahkan kau.malah dim diam menghargai kau, dan hal itu sudah sepantasnya.Aku tidak ingin kau tenggelam begitu saja dalam suatu msyarakat atau dalam suatu sistem yang jelek namun telah membudaya dalam masyarakat itu.Di mana pun kau berda.juga sekiranya kau bekerja di kantor.Kau pernah dengan penuh semangat menceritakan bagaimana novel karya Leon Uris yang berjudul QB VII.Di sana Uris menulis,katamu bahwa seorang manusia harus sadar kemanusiaannya dan berdiri tegak antara batas kegilaan lingkungannya dan kekuatan moral yang seharusnya menjadi pendukungnya.Betapapun kecil kekuatan itu.Di sanalah manusia itu diuji.Ini bukan kuliah.Aku tak menyetujui bila kau bicara soal kalah menang dalam hal ini.Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang.Dialog yang masih kurang.

34.Jamil:

Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi.generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan.Hubungan antar sesama manusia.Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual.kita makin cemas,kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi.Disementara sekolah di banyak sekolah malah,mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi,sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut.Pertukaran pikiran makin dibutuhkan.

35.Saenah:

Ya,seperti pertukaran pikiran malam ini.Kita harus yakin akan manfaat pertukaran .Ada gejala dalam masyarakat di mana orang kuat dan berkuasa segan bertukar pikiran.Untuk apa ,kata mereka.Kan aku berkuasa.

36.Jamil;

Padahal nasib suatu masyarakat tergantung pada hal-hal itu.Dan kita jangan melupakan kenyataan bahwa masyarakat itu bukan saja berada dalam konflik dengan orang-orang yang mempunyai sikap yang tidak sosial tetapi sering pula konflik dengan sifat sifat manusia yang paling dibutuhkan,yang justru ditekan oleh masyarakat itu sendiri.

37.Saenah:

Itu kan Erich Fromm yang bilang.

38.Jamil:

Memang aku mengutip dia.[Dari kejauhan terdengar suara bedug subuh kemudian adzan]

39.Saenah:

Aduh,kiranya sudah subuh.Pagi ini anak-anak menunggumu,generasi muda yang sangat membutuhkan kau.

40.Jamil:

Aku akan tetap berada di desa ini,sayangku.

41.Saenah:

Aku akan tetap bersamamu.Yakinlah.[Jamil menuntun istrinya ke kamar tidur.Musik melengking keras lalu pelan pelan,sendu dan akhirnya berhenti].

Catatan:

Naskah ini pernah dimuat dalam buku Kumpulan Drama Remaja, editor A.Rumadi.Penerbit PT Gramedia Jakarta,1988,halaman 25-33

5.

TAK ADA BINTANG

DI DADANYA

=================

Oleh: Hamdy Salad

P a r a   P e l a k u  :

1.      Pak Hasan, guru agama yang sederhana, usia sekitar 52 tahun.

2.      Istri Pak Hasan, agak gemuk dan sok tahu, usia 45 tahunan.

3.      Tiga Berandal, penjudi dan pemabuk, usia 30 tahunan.

4.      Tiga Murid, siswa SMU kelas tiga, aktivis organisasi sekolah.

5.      Murid-murid SMU, beragam fisik dan penampilannya.

6.      Tokoh Pengganti Pak Hasan (jika diperlukan).

7.      Penyanyi dan Pemusik, sesuai kebutuhan.

=================

waktu sehabis subuh. setting panggung menggambarkan Rumah sederhana pak guru hasan. Ruang tamu dan ruang kerja jadi satu. di meja kerja itu, pak hasan (memakai sarung, kaos putih merk swan, dan berpeci hitam) sedang memeriksa “pr” murid-muridnya. dengan diterangi lampu belajar (lampu yang hanya menyorot ke tumpukan kertas), sebuah radio di dekatnya mengumandangkan lagu kasidah, atau lagu-lagu rohani, bisa juga lagu “lari pagi”nya oma irama. kemudian istrinya masuk panggung dengan membawa secangkir kopi, dan meletakkan kopi itu di atas meja. kemudian mematikan radio.

 

ISTRI :

Pak, istrihat dulu pak. Kan masih ada waktu. Besok kan ndak apa-apa. Jalan-jalan gitu lho pak, biar sehat. Bapak kan baru kemarin pulang dari luar kota, apa ndak capek.

PAK HASAN :

Ya, iya … (lalu menyeruput kopi dari gelas) Keluar kota itu kan juga dalam rangka tugas guru, Bu. Jadi ya … ndak boleh capek. Melaksanakan tugas dan kewajiban itu juga seperti jalan-jalan, Bu. Malah bisa menyehatkan badan, juga hati dan pikiran.

ISTRI :

Tugas apa sih pak, kok kelihatan penting banget. Sejak kemarin kok di situ terus… Sekali-kali bantu masak di dapur tho pak, pak. Kata Bu Amir, tetangga kita yang dosen itu, memasak itu bukan kewajiban istri saja, tapi …

 

PAK HASAN :

Ini soal penting, Bu! Bukan soal masak-memasak. Ini pelajaran, masalah agama. Jadi saya mesti mengoreksinya dengan benar.  Kalau guru hanya mengoreksi soal-soal penting dan fondamen seperti ini hanya main-main, apa jadinya murid-muridku nanti.  Bisa-bisa jadi rusak generasi bangsa ini.

ISTRI :

Kan banyak juga guru yang bekerja seadanya, Pak. Yang bekerja tanpa membedakan apakah itu matematika, ekonomi atau agama, kan sama-sama pelajaran di sekolah (sambil bicara, istri mengambil sapu dan membersihkan lantai ).

PAK HASAN :

Beda, Bu, beda!. Kalau matematika salah, bisa diperbaiki. Kan hanya di kepala, di otak. Kalau soal agama, bahaya, karena masuk ke dalam hati. Salah sedikit bisa mempengaruhi tingkah laku anak. Pelajaran agama itu juga masalah hati, masalah moral bangsa, masalah kehidupan di dunia dan di akhirat nanti. Jadi bukan sekedar angka, tidak bisa disamakan dengan matematika atau pelajaran …

ISTRI :

Iya, iya… aku juga ngerti, Pak.  Kalau anak salah memahami dasar-dasar  agama, bisa jadi salah seumur hidupnya. Bapak masih ingat nggak dengan anak tetangga kita, itu … si-Midun yang sekarang masih di penjara…

PAK HASAN :

Nggak usah ngomongin masalah tetangga, kalau udah tahu, ya sudah…  terusin aja bekerjanya, kan masih banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan…

ISTRI :

Kan nggak ada salahnya to, Pak… istri guru kan mesti juga ngerti apa yang dipikirkan oleh suaminya. Apalagi masalah pendidikan. Pendidikan itu penting bagi generasi masa datang

PAK HASAN :

Ya karena itulah, aku selalu berusaha untuk serius. Meski aku tahu, serius atau tidak, main-main atau sungguhan, gaji guru ya tetap saja. Tapi tugas guru harus dikerjakan dengan hati, dengan ikhlas dan teliti, bukan dengan seenaknya sendiri…

ISTRI :

Betul, Pak. Saya setuju itu. Tapi kesehatan bapak kan perlu juga dijaga. Kalau bapak sakit, yang repot kan juga saya. Apalagi sekarang, anak kita kan masih kuliah di luar kota.  Ndak mungkin lagi nungguin setiap hari jika bapak sakit atau …

PAK HASAN :

Atau apa?  Makanya kalau masak yang enak dan sehat. Agar bapak juga sehat. Kadarzi gitu lho…. Tahu nggak kadarzi, seperti iklan di televisi itu…

 

ISTRI :

Istri guru mesti tahu dong, keluarga sadar gizi kan pak?

 

PAK HASAN :

Memang, kamu itu bukan saja cantik sedunia, tapi juga pinter dan …

 

ISTRI :

Ah, bapak ini, seperti pohon keladi aja, udah tua masih juga memuji-muji. Dulu waktu masih muda malah nggak pernah…

PAK HASAN :

Nggak pernah apa?!

ISTRI :

Ya nggak pernah memuji saya. Apalagi menulis surat cinta ….

PAK HASAN :

Soalnya waktu dulu, waktu kamu masih muda, kamu itu bawel…

ISTRI :

Kalau ndak bawel, bapak ndak suka sama saya…karena lebih dekat sama itu tuh… gadis yang rambutnya panjang dan hidungnya…

PAK HASAN :

Sudahlah… yang lalu biarlah berlalu, semakin tua usia seseorang kan mesti juga lebih arif dan bijaksana. Lebih memahami kehendak Yang Kuasa… (merasa ada bau masakan gosong). Bukan seperti masak nasi, makin lama makin …

ISTRI :

Oh iya, lupa pak, saya sedang ngliwet nasi. Waduh, gosong nanti…

SANG ISTRI BERLARI KELUAR DARI PANGGUNG. PAK HASAN MEMUTAR RADIO KEMBALI, DAN lagu PUN BERGEMA. LALU Berganti berita korupsi, PERAMPOKAN DLL. SEMENTARA PAK HASAN MASIH MEMERIKSA pr, Membuka kertas, Mencoret dll. sampai akhirnya MENGUAP BERKALI-KALI DAN tertidur. DALAM TIDURNYA, PAK HASAN BERMIMPI didatangi 3 orang mantan MURID SMU-NYA YANG Berpakaian SEPERTI BRANDAL. hingga pak HASAN BERGERAK-GERAK SEPERTI DISERET ATAU DIPUKULI ORANG. LAMPU PANGGUNG MEREMANG DAN KEMUDIAN GELAP.

KETIKA LAMPU NYALA KEMBALI, TIGA BRANDAL MANTAN MURIDNYA MASUK KE PANGGUNG DENGAN CARA TAK SOPAN, SEPERTI ORANG YANG SEDANG MABUK. PAK HASAN TERKEJUT DAN BERDIRI (BISA JUGA PAK HASAN TETAP TIDUR DI KURSI, DAN DIGANTI PEMAIN LAIN YANG MUNCUL DARI BELAKANG KURSI, DENGAN KOSTUM PERSIS PAK HASAN).

BRANDAL 1 :

Inilah guru kita, guru agama kita waktu sekolah dulu. Ia yang mengajari kita untuk menjadi manusia yang baik, yang selalu ikhlas dan bersyukur, tapi apa jadinya,  kita tetap miskin dan ditindas..

BRANDAL 2 :

Dia juga yang mengajari kita untuk hidup sederhana. Tak boleh mencuri, tak boleh mengambil hak orang lain. Tak boleh judi, tak boleh menenggak minuman keras, tak boleh ini, tak boleh itu, pacaran juga dilarang ha ha ha …

BRANDAL 3 :

Betul, man… Karena itu hidup kita jadi menderita. Jadi sengsara. Aku bekerja dikantor dengan baik, justru diusir dan singkirkan oleh teman-teman kantorku. Main ke tempat tetangga, dikira mau mencuri.

BRANDAL 1 :

Apalagi saya, fren… udah diusir ama mertua, ditinggal pula ama istri. Dan itu semua karena aku tak bisa beli mobil, seperti para tetangga… ayo, kita  gantung saja ia, kita buang ke comberan, agar hidup kita jadi tenang, tidak  dihantui lagi oleh khutbah-khutbahnya.

BRANDAL 3 :

Seret saja. Seret ia. Kita habisi saja. Siapa tahu, dengan menghabisinya hidup kita berubah jadi kaya, jadi terhormat seperti para pejabat negara. Ya, ndak, ya, ndak. Bisa korupsi, bisa menilap uang rakyat…

BRANDAL 1 :

Emangnya kita ini pejabat negara, menteri atau bupati, hee… Bagaimana kawan, benar nggak… kita ini orang kecil, orang tertindas di lorong negara, kalau ingin besar ya… kawin aja dengan janda kaya, ngrampok, nipu, judi, kalau perlu  kamu juga pantas jadi germo, ha ha ha …

BRANDAL 2 :

Ayo, jangan ngomong doang. Seret saja ia ke comberan …

BRANDAL 1 :

(menarik tangan Pak Hasan dengan kasar) Gara-gara ajaranmu, hidupku jadi tak menentu. Katanya ada surga, mana surganya, mana… surga itu ternyata telah dikontrak seumur hidup oleh orang kaya, para kuruptor dan maling. Hingga kita hanya menempati rumah gubuk derita seperti di neraka…

PAK HASAN :

Ada apa ini, ada apa. Bukankah kalian mantan muridku? Ingat, ingatlah! Ini guru agamamu, Pak Hasan…

BRANDAL 1 :

Aku masih ingat, kamu memang guru agama di sekolahku dulu, tapi karena pelajaranmu itu pula, hidupku jadi menderita…

PAK HASAN :

Hukumlah bapak, jika bapak telah salah… tapi apa salahku pada kalian, juga pada murid-muridku yang lain?

BRANDAL 1 :

Jangan berlagak! Jangan sok suci di hadapan kami.

PAK HASAN :

Ingatlah, nak, tak ada gading yang tidak retak.

BRANDAL 2 :

Betul man, tak ada gading yang tak retak. Dan guru telah meretakkan gading saya. Kalau gading saya tak retak, saya kan seperti gajah. Bisa sruduk sana-sruduk sini, ha…ha…

BRANDAL 3 :

Oke fren, bisa cerdas juga otakmu. Tapi soal peribahasa, aku lebih cerdas…Harimau mati meninggalkan taring, tapi hidup kita selalu ompong, tanpa taring yang bisa dipakai untuk memakan daging sesama, untuk mencucup darah manusia…

PAK HASAN :

Sadarlah, nak, sadar. Aku ini tak memiliki apa-apa, tak punya harta yang bisa kalian bawa. Untuk apa kalian ingin membunuhku… membunuh itu perbuatan paling cela di dunia… jika kalian bunuh aku, sama artinya membunuh agama yang telah kuajarkan pada kalian…

BRANDAL 3 :

Ini hari sabtu, Pak Hasan… bukan hari untuk berkhutbah. Bukan juga hari minggu untuk merampok harta bendamu.

BRANDAL 2 :

Ini hari bukan untuk mendengarkan khutbahmu, Pak Hasan… tapi ini hari kebalikan, Pak Hasan mesti dengarkan nasihat kami… iya nggak, man.

BRANDAL 1 :

Betul, Coy, betul!

BRANDAL 3 :

Rokok bentoel memang sedap , man…

PAK HASAN :

Kalian memang cerdas, dulu waktu kalian masih di sekolah, kalian termasuk murid yang cerdas, tapi perbuatan kalian ini sangat tidak pantas. Tak ada agama di dunia ini yang mengajarkan perbuatan seperti kalian. Ingatlah, nak, ingat! Pada saatnya nanti, kalian juga akan tua dan mati. Juga bapak ini, bapak juga akan mati. Kalau memang saatnya aku mati hari ini, aku ikhlas menerimanya. Tapi apa masalahnya hingga kalian ingin membunuh saya…

BRANDAL 1 :

Aku bilang jangan berkhutbah. Negeri ini tidak lagi memerlukan khutbah, Pak Tua. Sudahlah, akui saja kesalahanmu.

PAK HASAN :

Apa salahku, nak, apa salahku? Mengajar agama itu memang kewajibanku. Kewajiban semua orang yang ….

BRANDAL 3 :

Ah…banyak cingcong! Ayo kita seret saja ia. Kita buang di comberan, biar cacing-cacing saja yang mendengarkan nasehatnya.

PAK HASAN DISIKSA SECARA SIMBOLIK, KEMUDIAN DISERET KE LUAR PANGGUNG SAMPAI LAMPU GELAP. KEMUDIAN RADIO DI MEJA KERJA PAK HASAN BERBUNYI LAGI. LAMPU KERJA PUN MENYALA, SEMENTARA PAK HASAN MASIH TAMPAK TIDUR DI KURSI. KEMUDIAN ISTRI MASUK PANGGUNG, MEMATIKAN RADIO, DAN BERUSAHA MEMBANGUNKAN PAK HASAN.

ISTRI :

Bangun, Pak, bangun! Ada tamu yang datang. Seperti murid-murid sekolah bapak. Pak… bangun, Pak! Ada tamu yang ingin bertemu dengan bapak!

PAK HASAN :

(tergagap-gagap dan mengucek mata berkali-kali)

Astaghfirullah, astaghfirullah! Ya Tuhan…. Maafkan dosa-dosa kami. Jam berapa sekarang, Bu?

ISTRI :

Ada apa to, Pak! Kok seperti habis mimpi buruk saja.

PAK HASAN :

Astaghfirullah… sabar Bu, sabar. Semoga Tuhan melindungi kita semua. Mimpi saya bukan sekedar mimpi buruk, Bu,  tapi buruk sekali. Mengerikan.

Ya Tuhan, jika ada yang salah dalam perbuatan kami, ampunilah kami..

ISTRI:

Aduh, pak, pak… seperti berada di sarang penyamun aja.

PAK HASAN:

Mimpi saya, Bu. Mimpi saya sangat …

ISTRI :

Mimpi itu bunganya tidur, Pak. Kalau orang sedang mimpi buruk, katanya akan mendapatkan sebaliknya. Bapak mimpi apa sih, ketemu ama gadis berambut panjang ya..

PAK HASAN :

Masyaallah! Jangan bergurau, Bu. Jam berapa sekarang?  Lho, ini juga hari apa, jumat atau sabtu ya…

ISTRI :

Tenang Pak, tenang. Masih pagi. Belum ada jam sembilan. Ini kan hari sabtu, Bapak kosong, tidak ada jam pelajaran.  Itu… diluar ada tamu yang menunggu.

PAK HASAN :

Siapa tamunya, Bu?

ISTRI :

Sepertinya, murid-murid dari sekolah.

PAK HASAN :

Ha! Ada apa dengan mereka… jangan-jangan mimpi tadi akan menjadi kenyataan.

ISTRI :

Mimpi lagi, mimpi lagi. Mimpi apa to, Pak!

PAK HASAN :

Nanti aja kuceritakan. Suruh mereka masuk, Bu..  Barangkali ada yang penting. Pagi-pagi kok datang, apa tidak ada pelajaran, ya…

ISTRI :

Bapak ganti pakaian dulu, biar necis, gitu.

PAK HASAN :

Gini aja. Ndak apa-apa. Ini juga sudah rapi.

ISTRI :

Ya cuci muka dululah, Pak.

PAK HASAN :

Kan udah cuci muka, bahkan sudah mandi sebelum subuh tadi.

ISTRI :

Ya sudah kalau gitu, saya suruh masuk aja mereka.

SANG ISTRI KELUAR DARI PANGGUNG. PAK HASAN MERAPIKAN SARUNG DAN PECINYA. LALU TERDENGAR SUARA MURID MENGUCAPKAN SALAM DARI SISI PANGGUNG.

SUARA :

Assalamu’alaikum… selamat pagi, Pak Hasan.

PAK HASAN MENJAWAB SALAM DAN BERJALAN KE TEPI PANGGUNG, MEMPERSILAHKAN MEREKA UNTUK MASUK. TIGA MURID DENGAN SERAGAM SMU MASUK, DAN DUDUK DENGAN SOPAN.

PAK HASAN:

Ada apa ini, kok pagi-pagi sudah kemari. Apa tidak ada pelajaran di sekolah.

MURID 1 :

Maaf, Pak. Kami mengganggu. Kami semua mewakili dari murid klas tiga, dan kedatangan kemari ini juga sudah mendapat izin dari bapak kepala sekolah. Sekarang sedang ada kegiataan ekstra, jadi bisa ke sini …

PAK HASAN :

O begitu. Kalau memang sudah mendapat izin, ya ndak apa-apa. Memangnya ada sesuatu yang penting, ada berita penting untuk saya.

MURID 2 :

Ehh… anu, Pak, bukan sekedar penting, tapi juga sangat mendadak, dan harus kami laksanakan hari ini pula.

PAK HASAN :

Ada apa? Jangan-jangan…

MURID 3 :

Begini Pak Hasan, tiga hari yang lalu, ada tiga orang yang mengaku mantan murid bapak, mereka juga mengaku sebagai alumni sekolah kita, mencegat kami di jalan, katanya ingin ketemu dengan bapak. Waktu itu, kami menjawab bahwa Pak Hasan sedang bertugas di luar kota …

PAK HASAN :

Sebentar, sebentar… seperti apa orangnya. Gimana pakainya, atau gelagatnya…

MURID 1 :

Ya itu masalahnya, Pak. Kami tidak memperhatikannya secara jelas. Tapi kami hanya menduga, kelihatanya seperti ….

PAK HASAN :

Terus, terus gimana, apa kalian sudah melaporkan pada bapak kepala sekolah…

MURID 1 :

Sudah Pak. Dan bapak kepala meminta kepada kami untuk menyampaikan hari ini juga. Sesuai dengan pesan dari tiga orang yang mengaku alumni sekolah kita.

PAK HASAN :

Memang, baru kemarin siang saya datang dari luar kota. Jadi belum sempat masuk ke kantor…

MURID 1 :

Karena itulah, Pak, kami datang kemari…

ISTRI PAK HASAN MASUK PANGGUNG LAGI DENGAN MEMBAWA MINUMAN UNTUK TAMUNYA, DAN MELETAKKANYA DI ATAS MEJA.

ISTRI :

Kok kelihatanya serius sekali… ayo, diminum dulu tehnya, mumpung masih panas..

MURID-MURID :

Makasih…

MURID 1 :

Maaf Buk, kami merepotkan…

ISTRI :

Oh… ndak apa-apa. Ini semua memang tugas ibu, soalnya hanya saya dan bapak yang tinggal di rumah ini. Dua anak kami masih kuliah, jauh sekali dari kota ini… sekarang ini cari pembantu juga sulit, apalagi pembantu yang bisa dipercaya, udah gitu mahal lagi bayarannya…

PAK HASAN :

Sudah Buk, ini masalah penting. Kan masih banyak kerjaan di belakang yang harus diselesaikan…

ISTRI PAK HASAN KELUAR PANGGUNG SAMBIL MEMPERSILAHKAN KEPADA TAMUNYA UNTUK MEMINUM TEH YANG TELAH DISEDIAKAN. LALU MURID-MURID MEMINUMNYA.

PAK HASAN :

Bagaimana ceritanya tadi… masalah penting apa yang sebenarnya ingin kalian sampaikan.

MURID 2 :

Begini, Pak… disamping kami yang datang kemari, beberapa siswa lain dari klas tiga juga akan datang ke sini, ke rumah bapak ini…mudah-mudahhan sebentar lagi udah sampai.

PAK HASAN :

Lho, apa hubunganya dengan masalah tadi. Langsung saja ceritakan masalahnya, bapak ini sudah tua, sering lupa dengan urusan-urusan pribadi, tapi kalau urusan sekolah, urusan pelajaran dan kewajiban saya, bapak selalu ingat… tapi soal tiga orang yang mencegat kalian, apalagi alumni yang sudah lama, bapak sudah tak bisa mengingatnya satu persatu, kan alumni sekolah kita banyak sekali. Dan tidak semuanya jadi orang baik-baik, jadi orang terhormat, ada juga yang nasibnya kurang beruntung. Malah saya pernah dengar, ada alumni sekolah kita yang jadi preman…

MURID 3 :

Tapi kan tidak semua alumni sekolah kita jadi preman, Pak.

PAK HASAN :

Iya, betul. Tapi ada pepatah, susu rusak sebelanga karena setitik nila. Tahu kan maksudnya.

MURID-MURID :

(menjawab bersama) Tahu, Pak.

MURID 2 :

Eehh… begini Pak Hasan, kemarin siang sehabis sekolah, kami semua sepakat untuk menyampaikan pesan dari tiga orang yang telah kami ceritakan tadi. Katanya…

PAK HASAN :

Apa kata mereka, apa pesan mereka yang ingin disampaikan kepada saya. Ayo, ceritakan saja dengan jelas, jangan ragu-ragu atau takut… sebab sebelum kalian datang kemari, bapak tadi ketiduran di kursi dan bermimpi buruk sekali.. jangan-jangan ketiga orang yang datang dalam mimpi saya, juga ketiga orang itu…

MURID 1 :

Maaf Pak, jika kami mengganggu. Tapi ini semua kami laksanakan karena bapak memang pantas untuk menerimanya … (hp murid 1 berdering di sakunya, kemudian menerima telpon itu dengan serius) Sekarang aja… kalau udah sampai ya sekarang aja… langsung aja deh… ndak apa-apa… sekarang aja…(hp dimasukkan kembali ke dalam saku) Begini pak, maaf jika kami mengganggu…

PAK HASAN :

Sudah sejak tadi saya tanya, apa hubungan kedatangan kalian ini dengan tiga orang yang kamu ceritakan itu?

MURID 3 :

Kami belum tahu persis, pak. Kami bertiga hanya diberi tugas oleh teman-teman untuk datang kemari lebih dahulu….

MURID 2 :

Betul, Pak Hasan. Kami bertiga memang tidak tahu apa maksud dan tujuan dari tiga orang  alumni sekolah kita, tapi ini ada amplop yang dititipkan kepada kami untuk disampaikan kepada bapak. (lalu mengambil amplop dari dalam tas dan memberikan kepada pak Hasan)

PAK HASAN :

Apa kalian sudah tahu, apa isi dari amplop ini. Bagaimana nanti kalau saya buka, ternyata berisi racun atau apalah yang membuat saya pingsan, atau kalau menghirupnya bisa mati…  apa kalian mau bertanggung jawab?! Zaman sekarang ini, apa saja bisa terjadi… orang yang tadinya baik, tiba-tiba jadi rusak. Pemimpin yang dianggap bijaksana dan adil, ternyata juga mencuri … ( suara balon diledakkan, pak hasan terkejut karena seolah mendengarletusan senapa, lalu terdengar suara riuh).

TIGA MURID KEMUDIAN BERDIRI, TAPI PAK HASAN MASIH MEMANDANGI AMPLOP DI TANGANNYA. MURID-MURID LAIN DATANG DENGAN KOSTUM SERAGAM SEKOLAH DAN BEBERAPA ASESORIS TAMBAHAN SEPERTI BALON, TOPI, KALUNG BUNGA, ATAU TOPENG DLL. MASUK KE PANGGUNG (JIKA PANGGUNG SEMPIT, BISA JUGA DITEMPATKAN DI LUAR PANGGUNG ATAU DI DEPAN PENONTON). MEREKA LANGSUNG MENYUSUN KOMPOSISI, KEMUDIAN MENARI SAMBIL MENYANYIKAN LAGU  “GURU TANPA TANDA JASA” (AGAR MENARIK, LAGU TERSEBUT BISA DIGUBAH DENGAN GAYA MODERN). SETELAH SELESAI, MEREKA UCAPKAN KOOR  “SELAMAT ULANG TAHUN” KEPADA PAK GURU HASAN, DAN TEPUK TANGAN. DARI LUAR PANGGUNG, MASUK LAGI SATU SISWA DENGAN MEMBAWA BUNGKUSAN KADO (LUKISAN 60 X 80 CM) DAN MENYERAHKANNYA KEPADA PAK HASAN.

PEMBAWA KADO :

Dengan rasa hormat, tulus dan iklas, kami berikan kenangan ini sebagai doa,  semoga bapak selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

PAK HASAN :

Wah, berat sekali. Apa ini isinya?

SALAH SATU MURID :

Doa dan keselamatan dari kami semua.

PAK  HASAN :

Terima kasih, terima kasih. Saya juga selalu berdoa untuk kalian semua, semoga menjadi generasi yang berguna bagi bangsa, negara dan agama. Dan saya minta maaf, jika saya sendiri sudah lupa bahwa hari ini adalah hari kelahiran saya. Sebab, bagi orang yang sudah tua seperti saya, yang selalu diingat bukan hari kelahiran, tetapi hari sebaliknya.

PEMBAWA KADO :

Teman-teman… apakah teman-teman setuju jika kenangan ini dibuka sekarang juga?

KOOR MURID-MURID :

Setujuuu…………………

PEMBAWA KADO :

Oke, teman-teman, sebelum kado dibuka, apakah teman-teman setuju jika Pak Hasan memberikan sambutannya di hari yang berbahagia ini? Bagaimana?

KOOR MURID-MURID :

Setujuuuuu ………………

PAK HASAN :

Terima kasih, terima kasih atas perhatian kalian semua. Terima kasih juga atas pemberian kenangan ini. Sesungguhnya, orang yang paling mulia ialah orang yang selalu ingat pada hari kemudian, bukan pada hari kelahiran. Sebagaimana yang selalu bapak ingatkan kepada kalian semua; bekerjalah engkau seakan hidup abadi di dunia ini, dan beribadahlah engkau seakan mati esok hari. Jangan seperti pejabat di negara ini, harta benda disembah hingga ibadahnya diganti dengan korupsi, manipulasi, ngapusi….

MURID-MURID :

(tepuk tangan sangat meriah, lalu koor) Buka…buka … buka…

KEMUDIAN KADO KENANGAN DIBUKA OLEH MURID 1, 2 DAN 3. KADO TERSEBUT BERISI FOTO / LUKISAN PAK HASAN DALAM UKURAN SETENGAH BADAN, DENGAN PAKAIAN SAFARI DAN TEMPELAN LIMA BINTANG DI DADA KIRINYA. BINTANG TERSEBUT DIBERI SERBUK WARNA EMAS, HINGGA BERKILATAN KETIKA TERKENA SINAR LAMPU. RIUH TEPUK TANGAN TERDENGAR LAGI.

PAK HASAN :

Sekali lagi, terima kasih atas perhatian kalian semua. Tapi….saya minta kepada salah satu dari kalian untuk melepas dan menanggalkan bintang-bintang yang menempel di dada ini

PEMBAWA KADO MENDEKAT DAN MELEPAS LIMA BINTANG YANG MENEMPEL PADA LUKISAN. KEMUDIAN PAK HASAN MELANJUTKAN KATA-KATANYA.

PAK HASAN :

Kalian semua tahu, saya ini bukan jenderal, bukan juga pahlawan perang, jadi tak perlu ada bintang. Karena jika ada bintang di dada guru, semua guru hanya akan mengajar untuk mendapatkan bintang. Menjadi guru itu ibadah, mencari ilmu juga ibadah. Dan ibadah tidak memerlukan bintang, tidak perlu lencana dan simbol-simbol lainya…

MURID 1 :

Nasehat bapak akan selalu kami ingat. Karena hanya bapak yang selalu menyempatkan diri dan waktunya untuk memberi nasehat kepada kami..

PAK HASAN :

Semua guru itu wajib dihormati… dan setiap orang yang memberi ilmu kepada kita, tidak saja di sekolah, itu juga namanya guru… Memang, memuji orang lain itu baik, dan tidak dilarang, tapi tidak semua orang merasa senang mendapatkan pujian. Karena pujian itu seringkali membuat orang jadi lupa diri…..  agar saya tidak lupa diri, kenang-kenangan dari kalian akan saya pasang di dinding ruang tamu ini …

MURID-MURID TEPUK TANGAN KEMBALI. PAK HASAN BERGERAK DAN MEMASANG FOTO DI DINDING (BAGIAN TENGAH BACKDROP PANGGUNG). BERSAMAAN DENGAN ITU, LAGU “GURU TANPA TANDA JASA” TERDENGAR LAGI. KEMUDIAN, SEBAGIAN LAMPU MEREMANG DAN MATI, KECUALI LAMPU YANG MENYOROT KE FOTO PAK HASAN DI DINDING. KEMUDIAN, LAYAR PANGGUNG DITURUNKAN SECARA PERLAHAN. PERTUNJUKAN PUN SELESAI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s